”Nggak (berat), enak loh. Enjoy. Saya tanya keluarga saya, saya tanya sama adik saya ini, yang ngurus saya. Terus saya bilang, ‘Boleh nggak sih gue nggak pakai handphone?’ ‘Oh, boleh,’ dia bilang. Saya kira ada handicap-nya nggak kalau nggak pakai handphone untuk tata kerja manajemen segala macam? ‘Oh, nggak ada,’ dia bilang,” tuturnya.
Bagi Fariz, rangkaian peristiwa hukum yang ia lalui bukan sekadar musibah, melainkan sebuah teguran keras dari Sang Pencipta. Ia memaknai perubahan gaya hidupnya saat ini sebagai bentuk “hijrah”. Ia ingin meninggalkan segala pola pergaulan lama dan kebisingan media sosial yang dianggapnya tidak lagi sejalan dengan visi hidupnya yang baru.
”Saya orang muslim. Sebagai muslim saya melihatnya gini saja. Pesan Tuhan itu pada rasul-rasul-Nya itu adalah, kalau sudah tidak bisa diapa-apain lagi berhadapan dengan masalah, Hijrah! Ya ini saya hijrah. Hijrah dari profesi, hijrah dari sosial media, hijrah dari pergaulan,” tutur Fariz RM.








