Format drama vertikal juga memberikan tantangan tersendiri. Berbeda dengan produksi drama konvensional, cerita dalam format vertikal harus mampu disampaikan secara lebih singkat dan to the point agar penonton tetap tertarik mengikuti setiap episodenya.
Apalagi target utama “Sahabat Jadi Apa?” adalah anak muda yang terbiasa menikmati konten sambil scrolling media sosial.
Namun, justru format tersebut bisa menjadi ruang yang menarik bagi Radit untuk belajar. Ia dituntut mampu menyampaikan karakter dan emosi dengan cepat tanpa membuat adegan terasa berlebihan.
Bagi GG Management, kehadiran Radit dan talent internal lainnya juga menjadi bagian dari misi mereka untuk menciptakan ekosistem pengembangan talenta. Para peserta kelas akting tidak hanya diberikan pembelajaran, tetapi juga kesempatan untuk memiliki pengalaman syuting dan membangun portofolio.
Lewat “Sahabat Jadi Apa?”, Radit pun mendapat kesempatan untuk naik level dari sekadar belajar akting di kelas menjadi talent yang benar-benar terlibat dalam produksi.
