“Jadi bukan hanya sebatas pekerjaan aja di kantor, jadi supaya ada sportivitas dibangun di sini, jadi tidak ada saling sikut menyikut ya Bang ya? Semoga ini bisa dipertahankan, ke depannya jangan hanya jurnalis infotainment ya, tapi kita akan menantang teman-teman dari jurnalis yang ada di news,” tambahnya.
Deolipa merespons hal itu dengan santai. Ia mengakui gesekan kerap muncul ketika pekerja media dan narasumber saling berkejaran dalam agenda liputan. Namun, menurut ayah dua anak ini, gesekan tersebut bisa menjadi pemantik kedekatan jika dikelola secara positif. Lapangan hijau, katanya, adalah tempat terbaik untuk meredam tensi dibanding ruang sidang atau meja perundingan.
“Kalau saling sikut diselesaikannya di lapangan hijau jangan di meja hijau ya. Saling sikut ini sebenarnya kayak gini kan sebenarnya saling sikut. Tapi enggak apa-apa, namanya dinamika organisasi. Biar apa, biar ketemu kalau saling sikut berarti kan akrab ketemu gitu ya,” ujarnya.
Hubungan yang baik, lanjut dia, akan memudahkan kedua profesi dalam menjalankan tugas masing-masing. Pengacara dapat lebih tenang memberikan penjelasan, sementara jurnalis bisa bekerja tanpa rasa tegang atau kesalahpahaman. Kegiatan olahraga dianggap menjadi jembatan yang mampu menyatukan berbagai perbedaan pandangan.

