Menurutnya, sistem pendidikan di Belanda juga mengarahkan siswa pada penjurusan lebih dini. Sementara di Indonesia, ia merasakan metode yang lebih terpusat pada guru dan cenderung mengedepankan hafalan dibandingkan eksplorasi gagasan.
“Belanda lebih berpusat kepada siswa, fokus pada berpikir kritis, kemandirian, disiplin tentang waktu dan fokus penjurusan dini. Sedangkan di Indonesia lebih terpusat pada guru, cenderung menghafal,” ungkap Rayhan.
Terkait kendala bahasa, ia mengakui pada awalnya proses belajar dilakukan dengan dua bahasa, yakni Inggris dan Belanda. Metode ini membantu siswa internasional beradaptasi secara bertahap dengan bahasa lokal.
Seiring meningkatnya kemampuan dan hasil tes level pelajar, penggunaan bahasa Belanda dalam pengajaran menjadi lebih dominan. Hal ini menuntut Rayhan untuk terus meningkatkan kompetensi bahasa agar dapat mengikuti pelajaran dengan optimal.
“Pada awalnya guru menggunakan dua bahasa untuk mengajar yaitu bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Semakin bertambahnya pengetahuan dan tes mengikuti level pelajar, guru pun menggunakan bahasa Belanda saja,” paparnya.
