karina dan anaknya saat nyekar di dpan makam eppy kusnandar.f.ist
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan bahwa rasa rindu yang ia rasakan belum juga memudar. Meski waktu terus berjalan, kehilangan sosok yang telah menemaninya selama puluhan tahun ternyata masih meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan.
Sebelum mendatangi makam, Karina terlebih dahulu singgah ke warung makan yang pernah mereka bangun bersama. Tempat itu bukan sekadar lokasi usaha, tetapi juga menjadi saksi perjuangan mereka membangun kehidupan dari nol. Berada di sana membuat berbagai kenangan kembali bermunculan, mulai dari tawa, cerita, hingga perjuangan yang pernah mereka lalui bersama.
Suasana haru begitu terasa ketika Karina tak mampu lagi membendung air matanya. Baginya, setiap sudut tempat tersebut menyimpan cerita yang kini hanya bisa dikenang.
Usai dari warung makan, Karina melanjutkan perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Epy Kusnandar. Ia datang bersama putra mereka, Quentin Stanislavski Kusnandar. Penampilan Karina menjadi sorotan karena memilih mengenakan kebaya pengantin putih, busana yang identik dengan hari bahagia ketika mereka mengikat janji suci sebagai suami istri.






