
Skala produksinya pun jauh lebih besar dibandingkan film-film Kamila sebelumnya. Gunung Bromo dipilih sebagai latar utama, menghadirkan lanskap megah yang menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, teknologi, dan konflik batin para karakternya.
“Ini adalah metafora yang kuat untuk perjalanan karakter saya, alam yang megah, namun bisa terasa sangat mengisolasi,” ujar Kamila Andini.
Produser Ifa Isfansyah mengungkapkan bahwa ide film ini sebenarnya telah lahir sejak 2017. Bahkan, konsepnya sudah ada jauh sebelum Kamila menyelesaikan Yuni maupun serial Gadis Kretek.
Deretan pemain papan atas seperti Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Pitrashata Malasan semakin memperkuat daya tarik film ini. Di balik layar, Kamila juga menggandeng tim kreatif terbaik Indonesia, mulai dari sinematografer Batara Goempar hingga komposer Ricky Lionardi dan Bottlesmoker.
Tak hanya itu, Empat Musim Pertiwi merupakan hasil kolaborasi rumah produksi dari Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, hingga Singapura. Skala kerja sama internasional tersebut menjadikan film ini sebagai salah satu proyek perfilman Indonesia terbesar pada 2026.






