Foto bersama Hendrianti Sahara Nasution (putri Jenderal A.H. Nasution). (Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
Tugu batu yang ditandatangani langsung Jenderal Besar A.H. Nasution pada 22 Mei 1972 kini berdiri sebagai saksi bisu di desa terpencil itu. Ia mengingatkan kita hancur dalam sehari itu nyata. Bukan sekadar ancaman. Bukan skenario film. Lalu, ketika Iran dan Israel saling mengancam hari ini, apakah dunia akan mengalami nasib yang sama seperti Cijeruk 1947? Ataukah kita bisa belajar dari sejarah sebelum terlambat?
Latar Belakang Peristiwa: Cijeruk 1946–1947
Pada tahun 1946–1947, Indonesia berada dalam masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan. Divisi I Siliwangi menjadi salah satu ujung tombak perlawanan terhadap upaya Belanda untuk kembali menjajah.
Di tengah keterbatasan senjata dan logistik, markas divisi ini semula berada di Purwakarta, kemudian berpindah ke Tasikmalaya. Namun, salah satu pos komando terpenting justru ditempatkan di Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Lokasinya yang terpencil dan berada di daerah perbukitan menjadikannya tempat yang relatif aman dari pantauan musuh, sekaligus strategis untuk menyusun gerakan gerilya. Dari sinilah, perintah-perintah perlawanan terhadap penjajah dikirimkan ke berbagai front.
