Foto bersama Hendrianti Sahara Nasution (putri Jenderal A.H. Nasution). (Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
Kutipan dari Buku “Siliwangi dari Masa ke Masa”
Dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa, disebutkan bahwa Divisi I Siliwangi selama masa revolusi fisik 1946–1947 memiliki sejumlah pos komando yang tersebar di wilayah Priangan. Salah satu yang terdokumentasi adalah kompleks di Cijeruk, Sumedang, yang tidak hanya berfungsi sebagai markas taktis, tetapi juga tempat produksi senjata sederhana seperti Sten Gun rakitan lokal.
Buku tersebut juga mencatat bahwa pada 21 Juli 1947, serangan Belanda dalam Agresi Militer I menghancurkan sejumlah fasilitas Divisi Siliwangi, termasuk beberapa pos komando di daerah selatan Sumedang. Cijeruk menjadi salah satu saksi bisu dari kerasnya tekanan militer Belanda terhadap infrastruktur perjuangan Indonesia.
Meskipun buku tersebut tidak menyebutkan secara rinci nama Letkol R. Askari, dokumen prasasti yang ditandatangani A.H. Nasution pada 1972 justru melengkapi catatan sejarah tersebut. Dengan demikian, Cijeruk memiliki nilai historis yang ganda: sebagai bukti tertulis otentik dari panglima divisi sekaligus sebagai lokasi nyata yang terdokumentasi dalam literatur sejarah militer Indonesia.
