Foto bersama Hendrianti Sahara Nasution (putri Jenderal A.H. Nasution). (Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
(Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
Dalam pidatonya yang merupakan transkrip dari Dandim 0610/Sumedang, inspektur upacara menyampaikan: “Konon menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda tempat ini pernah menjadi saksi bisu berdirinya pabrik senjata Sten Gun yang dipimpin oleh Mayor Jenderal A.H. Nasution. Dikarenakan kebiadaban penjajah, akhirnya pada tanggal 21 Juli 1947 seluruh komplek dihancurkannya, sehingga hanya tersisa bangunan yang ini saja. Oleh karenanya, kita sebagai generasi penerus diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran nilai kepahlawanan.”
Ketua GM FKPPI PC X-10 Sumedang, Faisal Mohamad Nugraha, mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, sebagai organisasi kaderisasi, pihaknya selalu mengutamakan pembinaan terhadap generasi muda yang diharapkan kelak menjadi pemimpin bangsa.
Perspektif Organisasi dan Koneksi ke Ancaman Perang Iran
Bagi dunia korporat dan institusi, Cijeruk adalah metafora kerentanan. Setiap organisasi memiliki “pos komando” sendiri yaitu pusat data, tim krisis, atau rantai pasok. Jika tidak dilindungi, organisasi bisa lumpuh dalam sekejap. Sekarang, kaitkan dengan ancaman perang Iran vs Israel. Cijeruk mengajarkan bahwa perang itu nyata dan kehancuran bisa terjadi tanpa peringatan. Ketika rudal diluncurkan, pertanyaannya bukan siapa yang menang, tetapi apakah infrastruktur dan sistem komando kita akan selamat atau bernasib sama seperti Cijeruk 1947.
Kisah Cijeruk juga mengajarkan bahwa pelestarian sejarah tidak harus menunggu pemerintah. GM FKPPI PC X-10 Sumedang membuktikan bahwa organisasi kepemudaan bisa menjadi motor penggerak. Dengan gotong royong, mereka menggalang dana, membersihkan monumen, dan menyelenggarakan upacara Hari Pahlawan. Ini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai kepahlawanan dapat dihidupkan kembali oleh generasi muda, tanpa perlu instruksi dari atas.
