Foto bersama Hendrianti Sahara Nasution (putri Jenderal A.H. Nasution). (Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
Spanduk di atas menggantung di Cijeruk pada 10 November 2020. Di dalamnya tertulis: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Itulah makna sejati dari monumen ini. Bukan sekadar batu bertanda tangan jenderal, tetapi pengingat bahwa menghargai pahlawan tidak harus dengan upacara megah. Cukup dengan datang, membersihkan, dan mengingat. Harapan kami, semoga GM FKPPI tidak sendirian. Semoga pemerintah daerah segera menetapkan Cijeruk sebagai cagar budaya, agar generasi muda tahu di desa kecil ini, pernah berdiri pos komando dan pabrik senjata yang hancur dalam sehari.
Kami meyakini denngan menghargai jasa pahlawan adalah tindakan nyata, bukan slogan. Nilai-nilai kami adalah ketangguhan (bangkit dari kehancuran), gotong royong (seperti GM FKPPI menggalang dana), dan pelestarian sejarah (masa lalu adalah guru). Desa Cijeruk mengajarkan bahwa perang itu nyata, dan kehancuran bisa datang kapan saja. Maka, jangan tunggu pemerintah. Mulai dari diri sendiri pelajari sejarah, rawat monumen, dan sebarkan cerita. Karena bangsa yang besar bukan yang punya monumen megah, tetapi yang tidak pernah melupakan jasa pahlawannya.(Arasyida Novitasari)
