
Tak berhenti sampai di situ, ketegangan memuncak saat warga mencoba menyampaikan protes. Alih-alih mendapat ruang dialog, mereka justru menghadapi tindakan represif. Kejadian ini memicu kemarahan yang lebih dalam karena masyarakat merasa hak mereka atas tanah warisan nenek moyang diperlakukan semena-mena.
Protes warga Halmahera Timur mendapat sorotan dari berbagai pihak. Gianluigi Christoikov, komika sekaligus kreator konten, turut menyuarakan keprihatinannya atas perlakuan yang diterima masyarakat. Ia menilai bahwa suara warga tidak semestinya dibungkam hanya karena mereka menolak kerusakan lingkungan di kampung halamannya.
“Mereka hanya bersuara demi tanah adat yang telah dicemari, mengapa mereka harus ditahan,” kata Gianluigi dalam pernyataannya kepada media pada Rabu (23/7).
Ia pun mengkritik ketimpangan perlakuan yang terjadi. “Aneh jaman sekarang. Tanah dirampas, alam dirusak, kok warga dibungkam,” tambahnya dengan nada geram.
Menolak diam, masyarakat Halmahera Timur meluncurkan kampanye digital bertajuk #PTPositionMerusakLingkungan. Aksi ini menyebar cepat di berbagai platform media sosial. Melalui unggahan video, foto, hingga kronologi kejadian, warga ingin membuka mata publik akan kondisi yang mereka alami. Harapan mereka sederhana: agar pemerintah mendengar dan segera bertindak.





