
Ia juga mengapresiasi Ruben Adrian yang dinilai tidak mengeksploitasi isu disabilitas hanya demi menciptakan drama yang menyentuh. Menurut Mathias, film ini lahir dari pengalaman nyata karena sang sutradara memang telah lama hidup berdampingan dan mendampingi anak-anak penyandang disabilitas.
“Teman-teman media jangan melihat film ini sama dengan film lain yang mengangkat tema serupa. Dasarnya berbeda. Cerita ini lahir dari pengalaman yang nyata dan dibuat dengan hati,” tuturnya.
Lebih jauh, Mathias berharap Istimewa mampu membuka hati masyarakat agar memiliki empati yang lebih besar terhadap penyandang disabilitas.
“Sampai hari ini saya masih merasa ada yang salah dengan cara kita memandang mereka. Mudah-mudahan film ini bisa membongkar hati kita sebagai manusia, menumbuhkan empati, dan mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan kita semua sama. Mereka hanya membutuhkan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ucapnya.
Bukan hanya trailernya yang mencuri perhatian, poster resmi Istimewa juga penuh makna. Seluruh penghuni Rumah Istimewa tampak berdiri bersama di depan rumah mereka. Visual sederhana tersebut menyampaikan pesan kuat bahwa keluarga tidak selalu lahir dari hubungan darah. Kadang, keluarga adalah orang-orang yang memilih bertahan, saling menerima, dan selalu ada dalam suka maupun duka.








