Pengembang Minta Aap Klarifikasi Pemberitaan

BRITISIA – GARUT – Pengembang pasar Limbangan, PT Elva Primandiri meminta pembeli kios atas nama Aap melakukan klarifikasi terkait pemberitaan yang dilakukannya pada salah satu media online. Menurut pengembang, apa yang diberitakan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga lebih cenderung memojokan dan mengadu domba antara pengembang, pemerintah dan warga pasar atau pedagang lama.

Elva Waniza, Direktur Utama PT Elva Primandiri, mengatakan kejadian sebenarnya adalah pada 25 Mei 2013, Aap datang bersama warga Limbangan atas nama Dede Nurochim. Padahal saat itu seharusnya pedagang baru belum boleh membeli kios karena pengembang masih fokus pada pengurusan pedagang existing.

“Karena yang membawa saat utu mengaku sebagai anggota IWAPA dan Aap masih warga Limbangan, maka kami menjual satu unit kios milik pengembang ukuran 3×3 meter persegi di lantai dasar sesuai PO terlampir yang bersama kami tandatangani. Harga jual yang saat itu disepakati adalah Rp 15 juta per meter persegi, dan saat itu juga pengembang masih memberikan harga Rp 12 juta kepada pedagang existing sebelum akhirnya kami turunkan menjadi Rp 9,5 juta yang diajukan saudara Deden selaku ketua P3L setelah sosialisasi kedua” ujarnya.

Pasca penandatanganan tersebut, lanjut Elva, Aap melakukan pembayaran sebagai tanda jadi Rp 30 juta kepadanya dan tanpa sepengetahuannya ia melakukan pembayarakan Rp 21.232.500 dimana uang tersebut diterima dan ditandatangani penerimaannya oleh satpam proyek. Pada tahun 2014 hingga 2015, pengembang pun 4 kali melakukan validasi kepada pedagang dan 2 kali melakukan sosialisasi.

“Kepada pedagang existing kami edarkan surat karena pedagang berjualan di lokasi berjualan sementara yang tidak terlalu jauh dari pasar lama yang lagi dibangun. Khusus kepada Aap, kami langsung informasikan langsung melalui karyawan kami yang bernama Dadang ke rumahnya, dan yang bersangkutan tidak di Limbangan tapi dinas di Serang Banten, dan seminggu belakangan kami ketahui Aap dinas di Polres Serang Banten” katanya.

Ia melanjutkan, pada pertengahan November 2015 saudara dari Aap yang diketahui bernama Aas datang ke kantor pengembang dengan membawa kartu untuk pengambilan kunci. Kartu tersebut pun diketahui belum ditandatangi oleh Elva, tim marketing, dan yang bersangkutan sebagai syarat pengambilan kunci.

“Dugaan kami, Dede Nurochim yg membawa kartu tersebut kepada Aas dan hari Kamis Aas dianter Dede menemui kami untuk mengambil kunci kios nya. Sambil becanda kami sempat bertanya kenapa baru datang sekarang, karena dua tahun sudah banyak perubahan yang kami sampaikan dalam bentuk validasi dan sosialisasi,” jelasnya.

Setelah itu, pengembang mengaku menjelaskan bahwa lokasi kios milik Aap tidak ada perubahan, harga pun sangat murah. Namun karena saat dilakukan validasi tidak menghadiri, harga kios milik pengembang kini sudah berubah menjadi Rp 35 juta per meter persegi.

“Terus terang harga kios Rp 9,5 juta per meter persegi itu membuat kami rugi, sementara jatah pengembang hanya 20 % lebih kurang 10 % kios milik pengembang mensubsidi kios milik existing. Kenapa? Karena dengan harga Rp 12 juta per meter persegi kualitas bangunan sesuai tender dan berdasarkan KAK Disperindag, sehingga dengan turunnya harga menjadi Rp 9,5 juta seharusnya spect diturunkan,” ungkapnya.

Namun karena saat itu pengembang berfikir idealis, maka pihaknya dalam membangun tidak pernah di intervensi masalah kualitas. Malah ia mengaku tidak jarang pihaknya manambah kualitas, dan ia pun mempersilahkan masyarakat menjadi saksi yang jujur menilai setelah pasar Limbangan selesai 100 persen pada akhir Desember 2015. (APIN)

About britisia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*