Foto: Istimewa
Visi sutradara Rudi Soedjarwo dalam film ini adalah untuk menjauh dari narasi sejarah yang kaku dan lebih memilih pendekatan yang bersifat reflektif. Ia ingin mengeksplorasi perasaan kehilangan dan harapan yang dialami oleh para korban konflik.
“Saya ingin membuat film yang lebih hening. Bukan tentang sejarah konflik yang terjadi selama bertahun-tahun, tetapi kita lihat dari kacamata yang berbeda, yaitu tentang bagaimana dampak yang dirasakan oleh manusia-manusia di dalamnya, tentang kehilangan, kerusakan hubungan, dan harapan yang tetap ada ketika semuanya terasa runtuh,” ungkapnya.
Langkah Denny Siregar Production dalam menghadirkan pemeran dengan Down Syndrome mendapat apresiasi karena tidak menempatkan karakter tersebut sebagai simbol semata. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membuka ruang empati yang lebih besar di perfilman Indonesia. Penonton diajak untuk merasakan langsung bagaimana dunia terlihat dari kacamata mereka yang seringkali terpinggirkan.
Selain jajaran aktor utama, film ini juga didukung oleh talenta berbakat lainnya seperti Sigi Wimala, Jenda Munthe, dan Tike Priatnakusumah yang menambah warna dalam cerita. Kehadiran mereka memperkaya dinamika interaksi antarwarga di pengungsian yang ditampilkan dalam official trailer. Poster filmnya sendiri sudah memberikan gambaran sunyi tentang pencarian yang melelahkan namun penuh harapan.






