
Hal senada disampaikan Kiki Narendra. Ia mengatakan naskah Sofia langsung membuatnya sadar bahwa film ini memiliki tantangan besar, baik secara fisik maupun emosional.
“Pas baca skrip pertama kali, saya langsung berpikir, ‘Waduh, ini berat banget’,” kata Kiki.
Ia menjalani berbagai proses persiapan mulai dari reading, workshop, hingga diskusi intensif bersama sutradara dan para pemain lainnya agar mampu membangun karakter secara maksimal.
Sementara itu, sutradara Adis Kayl Yurahmah menjelaskan bahwa Sofia bukan sekadar film horor. Menurutnya, cerita dalam film ini berangkat dari realitas tentang bagaimana kekerasan bisa dianggap wajar ketika terjadi terus-menerus dalam sebuah lingkungan.
“Film ini berbicara tentang bagaimana kekerasan akan dianggap normal kalau berlangsung terlalu lama,” ujar Adis.
Ia menambahkan, keluarga, lingkungan, hingga sistem sosial memiliki peran besar dalam membentuk seseorang, termasuk meninggalkan luka dan trauma yang memengaruhi kehidupannya.
Bagi Adis, inti dari Sofia adalah kisah tentang kemanusiaan. Karakter Sofia menjadi pusat cerita yang menunjukkan bahwa kasih sayang masih bisa ditemukan bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun.





