
Pembukaan cabang kelima menjadi tonggak penting menjelang usia keenam Bipang Ambawang.
Namun, yang membuat restoran ini berbeda bukan hanya menunya.
Sekitar **70 persen karyawan Bipang Ambawang merupakan putra-putri Dayak** yang mendapatkan pelatihan pelayanan, kebersihan, hingga standar operasional restoran. Dengan begitu, budaya Dayak tidak hanya hadir lewat hidangan, tetapi juga melalui keramahan dan pelayanan yang diberikan kepada setiap pelanggan.
Hal menarik lainnya, hampir seluruh nama menu di Bipang Ambawang tetap menggunakan bahasa Dayak. Langkah ini menjadi cara sederhana namun efektif untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Kalimantan Barat kepada masyarakat luas.
Ke depan, Juniarto berharap semakin banyak pelaku usaha kuliner yang ikut mengangkat masakan khas Dayak agar semakin dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dunia.
Dengan perpaduan cita rasa autentik, konsep restoran yang unik, dan misi melestarikan budaya, Bipang Ambawang membuktikan bahwa kuliner tradisional bukan sekadar soal makanan. Setiap hidangan membawa cerita, identitas, dan warisan budaya yang layak dinikmati oleh siapa saja.






