Foto bersama Hendrianti Sahara Nasution (putri Jenderal A.H. Nasution). (Sumber: YouTube Radio eRKS FM Sumedang)
Tokoh Utama
Mayor Jenderal A.H. Nasution (kelak Jenderal Besar TNI) adalah Panglima Divisi I Siliwangi saat itu. Beliau dikenal sebagai ahli strategi perang gerilya dan tokoh yang sangat memahami pentingnya sistem komando dan logistik. Pengalaman pahit di Cijeruk kehilangan pos komando dalam sehari menjadi salah satu pelajaran paling berharga dalam karier militernya.
Letnan Kolonel R. Askari menjabat sebagai Kepala Staf Divisi. Bersama Nasution, ia bertanggung jawab atas koordinasi taktis dan operasional markas. Namanya tercatat dalam prasasti sebagai bagian dari struktur komando di Cijeruk, meskipun jarang muncul dalam historiografi nasional. Pada 22 Mei 1972, A.H. Nasution kini bergelar Jenderal TNI kembali ke Cijeruk. Beliau menandatangani langsung tugu peringatan sebagai pengakuan bahwa tempat ini menyimpan kepahitan sekaligus kebanggaan perjuangan bangsa. Tanda tangannya terukir abadi di batu itu.
Konflik dan Tantangan: Pabrik Senjata Sten Gun
Yang membuat Cijeruk istimewa adalah: di kompleks pos komando yang sama, para pejuang mendirikan pabrik senjata mandiri. Mereka memproduksi Sten Gun senjata api ringan yang sangat dibutuhkan di garis depan. Pabrik ini dikenal dengan nama “Tekidanto”.
Ini adalah bukti awal kemandirian alutsista bangsa Indonesia, jauh sebelum konsep industri pertahanan dalam negeri menjadi wacana resmi. Dengan peralatan seadanya dan keterampilan yang terus belajar, para teknisi merakit senjata yang akan digunakan untuk melawan penjajah. Cijeruk adalah bukti bahwa dalam situasi terdesak, bangsa ini bisa menciptakan solusi sendiri.







