Foto: AQUVIVA Wings Food Kampanye 321
Fenomena ini membuktikan bahwa dehidrasi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi lebih kepada belum terbentuknya pola minum yang teratur dalam keseharian.
Persoalan hidrasi ini ternyata tidak mengenal lokasi geografis. Data mencatat sebanyak 24,75% remaja di dataran tinggi dan 41,70% remaja di dataran rendah tetap mengalami dehidrasi ringan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang nyata antara pemahaman masyarakat tentang pentingnya air minum dengan praktik nyata dalam gaya hidup modern yang serba cepat dan padat.
Menanggapi kondisi tersebut, dr. Cut Hafiah, M.Gizi, SpGK, FINEM, AIFO-K, CSNC, CHt., selaku Dokter Spesialis Gizi Klinik, menekankan pentingnya keteraturan dalam mengonsumsi air. Menurutnya, tubuh manusia tidak hanya membutuhkan jumlah air yang cukup, tetapi juga distribusi asupan yang merata sepanjang hari agar mekanisme keseimbangan cairan tetap terjaga optimal.
“Tubuh manusia memiliki mekanisme keseimbangan cairan yang sangat bergantung pada keteraturan asupan minum, bukan hanya jumlahnya. Ketika asupan cairan tidak merata sepanjang hari, tubuh bisa mengalami penurunan kenyamanan dan performa ringan, seperti cepat lelah atau menurunnya konsentrasi. Pada periode puasa, perencanaan hidrasi menjadi semakin penting. Panduan sederhana seperti 3–2–1 membantu membentuk kebiasaan minum yang lebih terstruktur, sehingga keseimbangan cairan tubuh dapat terjaga dengan lebih optimal,” jelas dr. Cut Hafiah.







